Blogroll

Minggu, 17 Juli 2016

Napak Tilas Pernjalanan Romo Mustholih di Malang


Pada akhir ramadhan ini (1437 H), kami beberapa santri Al-Ihya Kesugihan Cilacap yang sedang mukim di Malang berkesempatan untuk sekedar napak tilas perjalanan Romo KH. Achmad Mustholih Badawi di Malang Raya. Rencananya itu selain ziyarah makam dan berkunjung ke pondok-pondok, juga sowan-sowan ke teman-teman karib Romo KH. Mutsholih atau santri biasnya menyebut Romo Mus yang masih hidup di Malang.

Tapi karena waktu sudah terlalu malam, jadi mencukupkan dengan ziayarah makam dengan sedikit pemberian informasi tentang Romo Mus oleh Ust. Radial SHI. Ia adalah santri ndalem Abah Imdad PPAI Kesugihan yang sekarang menjadi pengajar di PP. An-nur Bululawang Malang. Ia yang menamai agenda di akhir ramadhan tersebut dengan agenda napak tilas perjalanan Romo Mus di Malang. 

Bahwa Romo Mus situ pernah nyantri di PPAI Ketapang Malang yang saat itu diasuh oleh Romo Kyai Moch. Said, Beliau adalah salah satu ulama pendiri NU. Pernah diberi tugas oleh Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari untuk mengibarkan bendera NU ke penjuru dunia karena beliau termasuk orang yang mahir berbahasa Inggris, Russia, Jerman dan Belanda. Bersama Syaikh Ghanaim dan KH. A. Wahab Hasbullah, beliau berkelana ke luar negeri mengabarkan NU ke dunia internasional. Beliau mengantarkan surat berdirinya NU ke penjuru dunia Eropa.

Bila dibandingkan dengan nyantrinya beliau di pondok-pondok selain PPAI Ketapang, maka di PPAI Ketapang inilah Romo Mus paling lama di antara nyantri di pondok yang lain.

Sebagaimana cerita beredar di kalangan santri Al-Ihya, bahwa Romo Mus itu kalau mondok kok ketahuan bahwa beliau itu Gus alias anak kyai, maka beliau langsung pergi dari pondok tersebut. Jadi memang beliau tidak pernah nyantri dengan waktu yang lama di beberapa pondok.

Namun di PPAI Ketapang Malang ini, beliau bisa nyantri  sampai tiga tahun lamanya. Tiga tahun untuk orang dahulu adalah waktu yang cukup lama untuk nyantri dan waktu yang cukup bisa diperhitungkan. Entah karena memang Romo Mus saat itu tidak ketahuan gusnya atau karena apa, Romo Mus bisa bertahan sampai waktu yang begitu lama tadi itu.

Salah satu keteladanan Romo Mus saat nyantri di PPAI Ketapang ini ialah bahwa beliau selalu menjaga matanya dari pemandangan yang tidak boleh dan tidak baik dilihat. Bahwa beliau selalu berusaha untuk tidak pernah melihat wanita. Jika beliau kok sudah berusaha, tapi kok ia melihat wanita, maka beliau berlari sambil menangis menyesali dari apa yang beliau lihat itu. Apalagi jika wanita yang sedang dilihat itu sedang berpacaran dengan bergandengan tangan dengan pacarnya, maka tentu beliau akan sangat-sangat menyesali pemandangan itu.  



Lalu dengan nama PPAI Kesugihan itu. Bahwa setiap santri PPAI Ketapang Malang yang kemudian mempunyai pondok di masing-masing tempatnya, maka pondok tersebut akan dinamai dengan nama PPAI pula. Adapun PPAI Ketapang Malang kepanjangannya adalah Pendidikan dan Perguruan Agama Islam. Sedangkan PPAI yang digunakan oleh para alumni PPAI Ketapang Malang adalah singkatan yang mana kepanjangan bisa saja saja berbeda-beda.

Dengan itu, pada tahun 1961 Romo Mus menamai pondok dikesugihan dengan nama PPAI yang berekapanjangan dari Pendidikan dan Pengajaran Agama Islam. Jadi rujukan dalam penamaan PPAI Kesugihan Cilacap adalah nama pondok PPAI Ketapang Malang. pada tahun 1983 juga, pondok Kesugihan nama berubah menjadi Pondok Pesantren Al-Ihya Ulumaddin. Sebuah nama yang digunakan untuk mengenang Syaikh Achmad Badawi Hanafi sebagai pendiri pondok Kesugihan yang sangat mengagumi karya Imam Ghozali.

Pondok dirubah namanya menjadi Pondok Pesantren Al-Ihya Ulumaddin. Apakah lantas menghilangkan nama PPAI yang berkepanjangan Pendidikan dan Pengajaran Agama Islam itu? Saya kira tidak. Sebagaimana dapat dilihat dalam kop-kop surat pondok Kesugihan, selain nama Pondok Pesantren Al-Ihya Ulumaddin dicantumkan, nama Pendidikan dan Pengajaran Agama Islam juga masih dicantumkan. Namanya juga perubahan itu adalanya perubahan dengan penambahan, ada juga perubahan dengan pengurangan. Begitu kira-kira menurut saya.

Salah satu teman dekat Romo Mus saat nyantri di PPAI Ketapang Malang adalah Alm. KH. Alwi Murtadho Blambangan Bululawang Malang. Beliau juga mempunyai pondok yang namanya juga menggunakan nama PPAI, yakni PPAI Al-Ihsan. Karena memang Kiai Alwi adalah teman dekat Romo Mus dan juga diakuinya Romo Mus oleh Kiai Alwi, Romo Mus dikalangan santri  PPAI Al-Ihsan ini sangat dikenal. Sesuatu apa yang didapat oleh Kiai Alwi dari PPAI Ketapang Malang, maka sesuatu tersebut juga dimiliki oleh Romo Mus. Gus Munir putra Kiai Alwi juga merupakan alumni PPAI Kesugihan Cilacap.



Sampai saat ini, di Malang,  masih ada beberapa teman-teman dari Romo Mus yang masih masih hidup. Di antaranya adalah KH. Abdullah Dampit dan KH. Abdul Khanan yang sekarang menjadi pengasuh PPAI Al-Ihsan Blambangan Bululawang Malang. Semoga nanti masih ada kesempatan untuk sowan beliau-beliau untuk mendengarkan cerita-cerita tentang Romo Mus.

Ila hadarati Kiai Muhammad Said, wa Romo Mus, wa Kiai Alwi, lahumul fatihah. 
________________________

Oleh: Indirijal Lutofa 

4 komentar

Unknown 17 Juli 2016 pukul 06.39

nitip album ihyaussholawat 2016 kang.
http://nichepemula.blogspot.com/2016/04/album-ihyaussolawat-terbaru-2015-2016.html

SIKAPIKU 17 Juli 2016 pukul 08.04

TOP kang. jadi kangen PPAI

Unknown 11 Maret 2019 pukul 20.26

good good good

Unknown 11 Maret 2019 pukul 20.27

Alhaamdulillah
...

Posting Komentar